RATUSAN kali saya mengadakan pelatihan menulis (sejak mahasiswa). Dari beberapa kasus ada beberapa simpulan mengenai kendala atau hambatan menulis. Hambatan ini dibagi menjadi dua, yakni hambatan internal dan hambatan ekternal. Saya akan mengupasnya satu.

Hambatan internal terdiri atas lima hal, yakni yakin dengan bakat, minim latihan dan pembiasaan, rasa takut salah atau tidak berani mencoba, tidak percaya pada proses, dan obsesi yang tidak rasional atau sindrom perfeksionis.

Yakin dengan bakat merupakan hambatan pertama. Jika orang merasa tidak punya bakat menulis maka berarti dia tidak bisa menulis. Inilah yang sering menghantui para calon penulis. Padahal banyak penulis yang lahir bukan dari rahim penulis yang mewarisi bakat menulis orangtuanya. Saya juga termasuk di dalamnya. Orangtua saya adalah pedagang. Jelas, orangtua saya tidak menurunkan bakat menulis ke dalam darah saya. Saya bisa menulis karena belajar menulis. Intinya, jangan percaya bahwa bisa menulis itu karena adanya bakat menulis. Yang bisa membuat seseorang bisa jadi penulis karena dimulai dari belajar menulis.

Kedua, yang sering menjadi hambatan menulis adalah minim latihan dan pembiasaan. Jika Anda sudah belajar menulis (jangan mengandalkan bakat turun dari orangtua) yang Anda harus lakukan adalah latihan dan pembiasaan. Mengapa harus demikian? Karena selalu ada kaitan antara belajar, latihan, dan pembiasaan. Jika Anda sudah mengikuti pelatihan dan sudah mendapatkan ilmu menulis maka segera Anda latihan menulis. Setelah sering latihan menulis susul dengan melakukan pembiasaan menulis. Saya juga merasa kalau dalam waktu cukup lama tidak menulis maka ketika mau menulis lagi agak malas. Untuk itu Anda harus sering melakukan pembiasaan menulis. Jadi, urutannya adalah jika Anda ingin bisa menulis yang Anda pertama lakukan mengikuti pelatihan. Setelah pelatihan ilmu menulisnya harus diaplikasikan dengan cara melakukan latihan-latihan. Setelah melakukan latihan-latihan barulah untuk meneguhkan Anda harus pembiasaan menulis. Dengan cara seperti ini Anda pasti bisa menjadi penulis.

Hambatan ketiga yang umum saya temui adalah rasa takut salah atau tidak mau mencoba. Mengapa hambatan ini muncul? Biasanya hambatan ini muncul ketika seseorang akan memulai menulis tapi selalu tertunda dengan alasan takut salah. Padahal dalam hal menulis tidak ada istilah benar atau salah. Perasaan inilah yang membuat seseorang tidak mau mencoba. Padahal tidak bisa seseorang menjadi penulis tanpa didahului dengan mencoba menulis.

Keempat yang umum saya temui adalah tidak percaya pada proses. Proses merupakan sunatullah atau hal yang harus dijalani seseorang. Seseorang tidak akan bisa menulis jika tidak pernah mengalami proses menulis. Proses menulis selalu menyertai kepakaran seseorang  dalam menulis. Tidak ada istilah instan dalam menulis. Proses menjadi penulis itu mewaktu. Saya sendiri mulai menulis tahun 1989. Artinya, saya mengalami proses panjang menjadi penulis. Tapi bukan berarti Anda harus menunggu waktu puluhan tahun untuk menjadi penulis. Media belajar menulis cukup banyak. Bisa dari buku, jurnal, majalah, dan media sosial. Semua itu akan membuat Anda bisa menjadi penulis dalam waktu tidak lama. Intinya, Anda harus mengikuti proses kepenulisan yang setiap orang memerlukan waktu berbeda, ada yang cepat dan ada yang lambat.

Terakhir hambatan menulis internal adalah obsesi yang tidak rasional atau sindrom perfeksionis. Maksudnya, Anda jangan ingin langsung menjadi penulis hebat. Semuanya berproses. Tidak ada seorang penulis yang tiba-tiba menjadi penulis hebat. Dia akan mengalami proses pembelajaran dari belum bisa menjadi bisa dan menjadi mahir. Jadi, jangan berharap untuk menjadi penulis itu sim salabim. Untuk itu mulailah belajar, latihan, pembiasaan, dan menjadi profesional.

Itulah lima hal yang menjadi hambatan internal seseorang menjadi penulis.

Untuk hambatan ekternal adalah minimnya penghargaan terhadap penulis. Di Indonesia tidak bisa seseorang menjadi penulis dengan raihan rupiah yang besar. Kecuali para penulis popular yang novelnya laris di pasaran. Tapi para penulis buku atau textbook yang bukunya banyak dipakai di sekolah dan PT tidak banyak yang menikmati hasil menulis. Namun, para penulis umumnya puas jika bukunya diperbicangkan dan diapresasi masyarakat. Imbalan dalam bentuk materi sudah dipahami oleh para penulis, meskipun kini banyak penulis muda yang mampu mengumpulkan rupiah dari jerih payah menjadi penulis konten. Hal ini berkaitan dengan era digital yang mengalami berbagai ledakan, diantaranya ledakan konten. Nah, konten dalam bentuk tulisan untuk konsumsi portal inilah yang kini menjadi surga bagi para penulis kreatif.

Demikian hambatan-hambatan yang biasanya ditemui oleh calon penulis yang mau terjun di dunia penulisan.

Mengukur Diri

Sebelum Anda menulis ada beberapa pernyataan yang membutuhkan jawaban Anda sesuai dengan keadaan Anda.

Pertama, apakah menurut Anda menulis itu membutuhkan mood? Jawabannya bergantung kebiasaan Anda. Mungkin Anda menjawab bahwa menulis selalu membutuhkan mood. Tapi bisa jadi Anda menjawabnya menulis itu tidak selalu membutuhkan mood. Menurut saya apakah menulis membutuhkan mood atau tidak bergantung tujuan menulis. Jika menulisnya karena berupa penugasan maka tidak perlu mood karena sedang mood atau tidak tetap harus menulis. Jika menulisnya karena keinginan pribadi bisa jadi butuh mood. Namun jika seseorang mendedikasikan dirinya menjadi penulis profesional maka soal mood tidak jadi masalah.

Penulis fiksi dunia JK Rowling pernah menyebutkan pada sebuah kesempatan, “Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam.”

Pernyataan JK Rowling ini menyiratkan bahwa ada atau tidak ada mood bagi seorang penulis profesional tidak masalah. Karena menulis bagi kalangan profesional sebagai pekerjaan maka dia akan melakukannya sesuai yang sudah dijadwalkan. Apalagi di era ledakan konten seperti saat ini seorang penulis konten akan menulis setiap saat untuk mengisi blog atau website orang lain yang meminta.

Penulis fiksi top abad 21 JK Rowling (foto: ist)

Kedua, apakah ide buruk akan tertutupi oleh tulisan yang bagus? Tampaknya Anda akan menjawab bahwa ide buruk tidak akan menghasilkan tulisan yang baik meskipun ditulis secara baik karena ruh dari tulisan itu sendiri berasal dari ide. Hampir sama dengan semboyan komputer, “garbage in garbage out” (jika sampah yang dimasukkan maka sampah juga yang akan dikeluarkan). Untuk itu sebaiknya tentukan ide yang baik dan tuliskan secara baik pula hasilnya pasti bagus.

Penelitian Dr. Pannebaker menyebutkan, “Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh.” Ungkapkan Pennebaker ini menyiratkan bahwa ide tulisan menjadi inti baik tidaknya tulisan itu sendiri.

Ketiga, para penulis adalah orang yang memiliki bakat menulis. Tampaknya Anda menjawabnya ‘iya’ para penulis adalah mereka yang mempunyai bakat menulis. Dulu, sebelum saya berbagi pengalaman menulis juga berpendapat bahwa perlu bakat untuk bisa menulis. Tapi ternyata itu tidak benar. Menulis adalah sebuah skill yang awalnya kita pelajari kemudian berlatih dan berikutnya adalah pembiasaan. Saat tahun 90-an saya mengadakan pembinaan terhadap calon penulis ada seorang yang ketika belajar menulis sulit menerapkan yang sudah dipelajari. Tapi yang bersangkutan pantang menyerah, terus belatih sampai akhirnya dia menjadi penulis top. Kini tulisannya sering dimuat di Kompas.

            Dari kisah di atas ternyata bakat tidak lansung berkaitan dengan ketrampilan menuls. Ada orang yang karena merasa punya bakat menjadi penulis tapi banyak juga yang merasa tidak punya bakat tapi karena rajin latihan menulis akhirnya menjadi penulis. Bakat seorang penulis tidak bisa serta merta diturunkan kepada anak cucunya. Saya punya anak tapi tidak ada yang menuruni keahlian menulis saya. Tapi kalau saya mengajari menulis kepada anak-anak saya mungkin anak saya pintar menulis.

Keempat, apakah menulis merupakan permainan kata-kata. Bisa jadi Anda menjawab ‘iya’ dan ‘tidak’. Menjawab ‘iya’ karena menulis memang kaitannya mengolah kata menjadi kalimat. Kalimat dikemas menjadi sebuah alinea dan kumpulan beberapa alinea menjadi tulisan. Menjawab ‘tidak’ karena menulis bukan persoalan permainan kata-kata tapi bagaimana menulis itu menuangkan gagasannya secara baik sehingga mudah diterima pembaca.

Dari perspektif  kepenulisan masalahnya bukan permainan kata-kata tapi bagaimana pemilhan kata-kata yang tepat (diksi). Kepiawaian seseorang melakukan diksi itulah yang sebetulnya penting dilakukan penulis. Saya mahir menulis bukan karena ilmu saya banyak tapi karena diksi saya kebetulan sudah teruji sejak tahun 1989, saat pertama kali tulisan saya dimuat di Harian Gala.

Kelima, apakah bahasa yang rumit lebih bergengsi dan intelek. Anda mungkin menjawab ‘iya’ jika tujuan menulisnya untuk menulis karya ilmiah yang akan dimuat di jurnal ilmiah. Tapi bisa jadi Anda menjawab ‘tidak’ karena menulis itu tidak harus menggunakan bahasa yang rumit dan susah.

Menurut saya saat ini menulis yang penting mudah dipahami oleh pembaca sasaran. Jika sasaran tulisan Anda kalangan akademik dan dimuat di jurnal ilmiah maka gunakan bahasa baku yang sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Tapi jika Anda menulisnya untuk media nonjurnal seperti buku atau artikel di media massa atau konten di web Anda bisa menggunkan bahasa hybrid, yakni campuran bahasa baku dan bahasa popular.

Pada awal karir menulis saya sering menggunakan bahasa-bahasa akademik untuk menunjukkan intelektualitas. Panjang tulisannya pun menjadi lebih panjang dibanding yang seharusnya. Namun seiring perkembangan waktu saat ini isi tulisan saya lebih ringan tapi informatif. Hal ini saya rasakan setelah saya membandingkan tulisan saya di era tahun 80-an, tahun 90-an, dan saat ini tahun 2000 an. Jadi, untuk menunjukkan intelektualitas kita tidak berarti kita mengumbar dengan kalimat akademik yang rumit dan tidak mudah dimengerti orang lain.  

Beban yang (Mungkin) Anda Rasakan

Di kalangan mahasiswa dan juga kolega sesama dosen ada beberapa hal yang saya temui saat di lapangan, yakni kalua menulis harus bagus (isinya), harus urut (sistematikanya), dan harus enak (kalimatnya). Ternyata tiga tuntutan inilah yang membuat seseorang tidak mau memulai menulis.

Pertama, harus bagus tulisannya. Bagus tidaknya seseorang yang baru menulis jangan menjadi patokan karena yang bisa merasakan apakah tulisan Anda bagus atau tidak ya Anda sendiri. Orang lain hanya bisa menilai sepintas saja karena semua pembaca akan mafhum terhadap apa yang dibacanya. Jika ternyata belum bagus pun pembaca tidak akan memprotes penulisnya. Semua meyakini bahwa menulis sifatnya personal sehingga bagus tidaknya bergantung jam terbang. Semakin sering kita menulis maka akan terasa bagus tapi jika jarang menulis belum terasa bagusnya.

Seorang penulisa skenario cerita misteri bernama Viki King pernah berujar, “Anda sedang menulis skenario yang tidak mungkin ditulis orang lain. Sebuah cerita yang berkobar dalam diri Anda adalah skenario yang komersil. Anda tidak menjadi penulis kelas dua di bawah siapa pun. Anda menjadi yang terbaik diri Anda sendiri. Anda memiliki satu hal yang layak jual sebagai seorang penulis. Sudut pandang Anda adalah sebuah cara unik untuk melihat dunia berdasarkan seluruh pengalaman Anda dan bagaimana Anda merasakan dunia seputar Anda.”

Ungkapan Viki inilah yang meneguhkan bahwa seseorang tidak bisa dinilai bagus tidaknya karena masing-masing punya keunikan dan keistimewaan sendiri-sendiri yang antara satu orang dengan orang lain tidak sama. Ingat kata Viki,” Anda bukan penulis kelas dua”

Kedua, harus runtut sistematikanya. Seorang penulis pemula sering merasa tulisannya tidak runtut. Tapi sering hal itu hanya perasaan saja karena yang bersangkutan belum biasa menulis sehingga apa yang ditulisnya terasa seperti tidak runtut.

Penulis Brazil Garcia Gabriel Marquez menyebutkan, “Saya tidak tahu siapa yang mengatakan bahwa para novelis membaca novel-novel karya orang lain hanya untuk membayangkan bagaimana mereka menulis. Namun, saya yakin perkataan ini benar. Kita tidak perlu kecewa dengan rahasia-rahasia yang ada di balik permukaan buku: kita harus membalik-balik buku untuk menemukan lapisan rahasia itu. Dalam satu cara yang tidak mungkin dijelaskan, kita mengurai buku menjadi bagian-bagian penting dan kemudian menyatukannya kembali setelah kita memahami misteri-misteri kerumitan personal di dalamnya.”

Bisa jadi menurut Anda tulisan Anda belum runtut tapi pembaca merasa sudah cukup karena memahami jerih payah semua penulis adalah untuk memenuhi keinginan pembaca. Apa yang sudah tersaji dalam sebuah tulisan merupakan kolaborasi antara intelektualitas dan pengalaman penulis.

Ketiga, harus enak kalimatnya. Enak dan tidak dalam membuat kalimat bergantung diksi yang kita latih dan kekayaan perbendaharaan kata yang Anda miliki. Semakin Anda piawai menggunakan diksi maka kalimat itu akan mengalir, sistematis, dan enak dibaca. Namun jika Anda masih belum piawai memainkan diksi dan minim perbendaharan kata maka tulisan pun terasa hambar dan kurang menarik. Tapi semuanya bisa dilatih untuk mahir memilih diksi dan memperbanyak perbendaharaan  kata-kata.

Dr Stephen D Krasen menyatakan, “Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca.” Hal ini menunjukkan bahwa jika Anda jarang membaca maka ketrampilan diksi dan perbendaharaan kata minim, akibatnya apa yang kita tulisan tidak lancar dan kurang menarik.  Untuk itu perbanyaknya membaca. Membaca apa saja karena dengan membaca berarti Anda sedang belajar diksi dan memperbanyak perbendaharaan kata.

Gejala yang Anda Alami

            Jika ketiga hal tadi menggelayuti diri dan pikiran Anda maka pada jangka tertentu Anda akan merasakan apa pun yang Anda tulis selalu dinilai secara kritis sehingga jika tidak bagus, tidak urut, tidak enak akan langsung kita divonis ‘jelek’.

Jika pengalaman menulis Anda seperti ini terus menghantui Anda maka tanpa terasa di bawah sadar Anda  tersimpan perasaan “menulis itu susah, saya tidak bisa!”. Lebih parahnya lagi, kalimat itulah yang semakin Anda yakini. Lalu Anda pun hidup dengan keyakinan “saya tidak bisa menulis”.

Menurut Hernowo (alm) dalam sebuah pelatihan menulis di tahun 2001 membuat skema mengenai menulis kritis di bawah ini:

Proses menulis kritis selalu diintai otak kiri.(foto: ist)

Ketika otak kiri kita yang begitu cerdas dan kritis itu terlalu mendominasi, ia akan menyeleksi terus menerus sehingga tulisan Anda tidak pernah jadi karena dikritis terus. Padahal kalau Anda ngomong sangat nyaman sekali berada dalam situasi di mana Anda bisa bicara secara bebas. Bahkan saat antusias, Anda benar-benar tidak mengendalikan “mulut” Anda. meluncur begitu saja.
Situasinya berbeda kalau kita merasa berada dalam suasana  ”dinilai”. Anda akan terbata-bata tidak lancar.

Masih menurut Hernowo yang sampai akhir hayatnya rajin menulis buku menyebutkan bahwa belahan otak kanan adalah tempat munculnya gagasan-gagasan baru, gairah, dan emosi. Bangkitkan energi ini. Tiadanya bahan bakar pendorong inilah yang dikenal sebagai hambatan penulis. 

Pikiran Anda adalah tempat penyimpanan ide-ide panas, bergejolak, mendidih, meletup-letup untuk dapat bebas keluar. Bendungan yang menahannya, itulah hambatan penulis. Untuk itu Anda harus mampu menghancurkan hambatan tersebut dengan cara melakukan  Clusteringbrainstorming pikiran secara bebas dan menuangkannya secara cepat tanpa menilai sama sekali, sampai “bertemu” aha! (sangat bagus untuk merangsang gagasan). Selanjuntya Printing, yakni menulis bebas secara cepat, usahakan tak berhenti, dan tidak peduli serangan “editor” otak kiri Anda.

Itulan cara cerdas pertama konsep ‘The 7 Smart Writing’. Melalui cara cerdas pertama ini berarti Anda sudah punya kecerdasan untuk menghancurkan hambatan menulis, baik internal maupun eksternal.

Selamat. Kini, Anda sudah mempunyai kecerdasan pertama dari tujuh kecerdasan menulis berikutnya.***