Di bagian atas saya singgung perihal unsur tulisan dari yang paling kecil, yakni kata, kalimat, alinea, dan tulisan. Berikut akan dibahas mengenai ‘kata’.

Dari ‘situs www.zenius.net dijelaskan mengenai makna ‘kata’. ‘Kata’ adalah kumpulan dari beberapa huruf yang membentuk sebuah makna tertentu. Di dalam tata bahasa, ‘kata’ merupakan kombinasi morfem atau bagian terkecil dari sebuah kalimat. ‘Kata’ adalah satuan terkecil yang dapat dirtikan dan dapat membentuk frasa, klausa, ataupun kalimat.

Ciri-ciri kata terdiri atas beberapa huruf, memiliki makna, memiliki fungsi tertentu dalam tata bahasa, dan dapat dibentuk menjadi frasa, klausa atau kalimat apabila digabung dengan kata lain.

Bentuk kata dibagi menjadi:

  • kata benda, seperti kucing, padi, piring
  • kata sifat, seperti cantik, rindu, dingin
  • kata kerja, seperti makan, baca, tulis
  • kata keterangan, seperti pagi, besok, halaman
  • kata bilangan, seperti satu, pertama, beberapa
  • kata ganti, seperti saya, mereka, siapa
  • kata tugas, seperti sejak, tanpa, itu, pun

Secara garis besar, ‘kata’ terbentuk dari sebuah ucapan atau tulisan, berasal dari pikiran dan perasaan yang kemudian digunakan dalam bahasa. Dalam perkembangannya, ‘kata’ tersebut digunakan secara massal dan dikumpulkan dalam pembendaharaan suatu bahasa. (www.zenius.net)

Setelah memahami mengenai ‘kata’ selajutnya Anda akan mendalami tentang ‘kalimat’. Sepintas yang dimaksud ‘kalimat’ adalah sekumpulan kata yang membentuk suatu gagasan atau maksud. MG Hesti Puji Rastuti dalam buku Berkreasi dengan Kalimat menjelaskan perihal ‘kalimat’.  Menurut Hesti, ‘kalimat’ merupakan salah satu istilah kebahasaan. Lebih tepat lagi kalimat merupakan salah satu istilah linguistik. Apa sebenarnya arti istilah ‘kalimat’?

            Banyak buku yang menjelaskan pengertian ‘kalimat’. Banyak pula ahli bahasa yang memberi pengertian tentang ‘kalimat’. Simak uraian berikut ini.

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi arti ‘kalimat’ adalah kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan.
  2. Secara linguistik atau ilmu bahasa, ‘kalimat’ diberi pengertian sebagai  satuan bahasa yang secara yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.
  3. Dalam buku Tata Bahasa Indonesia kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau (wacana) yang mengungkapkan pikiran yang utuh secara ketatabahasaan. Dalam wujud lisan, kalimat diiringi oleh alunan titi nada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan berhuruf Latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanya taya (?), , atau tanda seru (!); dan sementara itu disertakan pula di dalamnya berbagai tanda baca yang berupa spasi atau ruang kosong, koma, titik koma, titik dua, dan atau sepasang garis pendek yang mengapit bentuk tertentu.

Dari beberapa batasan tentang ‘kalimat’ tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Kalimat dapat diartikan berdasarkan struktur dan makna.
  2. Berdasarkan struktur, kalimat adalah kesatuan bahasa yang didahului dan diakhiri dengan kesenyapan. Susunan kata dan intonasi yang digunakan menunjukkan bahwa pikiran yang diungkapkan sudah lengkap.
  3. Berdasarkan makna, kalimat adalah kesatuan bahasa yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap.

Sebagai salah satu bentuk bahasa, kalimat mempunyai beberapa fungsi. Dua diantaranya adalah yang berhubungan dengan komunikasi dan pengajaran.

  1. Dalam komunikasi, kalimat mempunyai fungsi sebagai berikut.
  2. memberitahukan suatu,
  3. menanyakan sesuatu,
  4. menyampaikan ekspresi kejiwaan manusia.
  5. Dalam pengajaran bahasa, masalah kalimat dan pemakaiannya menjadi dasar pemilihan materi pengajaran. Tujuan utama dari pengajaran bahasa adalah ketrampilan menggunakan kalimat secara efektif. Kalimat dalam hal ini digunakan untuk:
  6. memberitahukan sesuatu,
  7. menanyakan sesuatu dan
  8. membahasakan masalah dan membahasakan ekspresi kejiwaannya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa pada dasarnya fungsi kalimat adalah untuk melancarkan komunikasi antarpengguna kalimat. Komunikasi tersebut dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis. Agar komunikasi dapat terjalin secara baik, perlu ada kesamaan persepsi tentang kalimat. Dalam Bahasa Indonesia memang dikenal terdapat beragam kalimat.(Rastuti, 2009: 1-2)

Menggunakan Kalimat Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional digunakan sebagai alat komunikasi antarsuku bangsa di Indonesia. Komunikasi dapat disampaikan secara lisan maupun tertulis. Komunikasi lisan dapat terjadi dalam pembicaraan antarpersonal, interaksi antara siswa dan guru di kelas, dalam rapat, wawancara, siaran radio, atau siaran televisi. Sebaliknya, komunikasi tertulis dapat disampaikan melalui surat, pamplet, brosur, surat kabar, buletin atau buku. Komunikasi lisan mempunyai ragam yang khas. Begitu juga komunikasi tertulis mempunyai ragam yang khas.

Bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi dua macam. Yang pertama adalah bahasa lisan yang digunakan dalam komunikasi searah. Ada pembicara dan ada pendengar. Yang kedua  adalah bahasa lisan yang digunakan untuk percakapan. Lingkup percakapannya mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan bisnis, lingkungan pergaulan dalam masyarakat sampai percakapan resmi atau diskusi. Bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut bersifat fragmentatif. Biasanya bahasa percakapan juga disertai gerakan-gerakan anggota tubuh yang sering disebut dengan body language. Gerakan yang dilakukan pembicara, misalnya muka atau mimik, gerak tangan, dan gerak mata. Gerakan anggota badan ini dimungkinkan untuk dilakukan karena bicaranya saling tatap muka. Karena itulah dalam bahasa lisan terjadi penyimpangan aturan tata bahasa yang baku. Kalimat yang sering digunakan adalah kalimat-kalimat tidak lengkap dan menggunakan kata-kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa tulis berbeda dengan bahasa lisan. Dalam ragam tulis ini antarpembicara tidak , saling bertatap muka, tidak dalam satu lokasi. Para pembicara tidak berbicara secara langsung. Jadi, pembicara tidak dapat langsung mengetahui reaksi lawan bicaranya. Oleh sebab itu pembicara atau penulis berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginannya sejelas-jelasnya.Tujuannya agar pembaca tidak salah paham. Sebagai akibatnya, penulis menggunakan kalimat-kalimat panjang, menggunakan banyak penghubung yang sebetulnya tidak perlu. Akibat selajutnya adalah kalimat menjadi sulit dipahami.

Bagaimana jadinya kalau seseorang tidak paham menggunakan kalimat? Itu tentu akan menyulitkan dia dalam berkomunikasi. Alasannya, kalimat merupakan sarana untuk mengemukakan gagasan dan pendapat baik secara lisan maupun tertulis. Kalimat merupakan bahan-bahan untuk membuat berbagai jenis karangan. Semua karangan, baik karangan ilmiah maupun nonilmiah menggunakan kalimat sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan atau pendapat. Tidak hanya dengan cara bertatap muka dengan orang yang dekat. Akan tetapi kalimat juga digunakan untuk menyampaikan gagasan atau pendapat dengan orang yang berjauhan jaraknya. Bahkan, pendapat dan gagasan juga dikomunikasikan dengan orang yang belum dikenal.

Bagaimana cara menggunakan kalimat untuk mengemukakan pendapat atau gagasan? Bagaimana caranya agar  gagasan dan pendapat kita dipahami oleh orang lain? Langkah pertama dan utama  yang harus dimiliki adalah berani mencoba. Lihatlah sekeliling kita! Banyak orang yang mampu berkomunikasi dengan bahasa yang tepat. Salah satunya adalah adalah kutipan berikut.

Perhatikan kalimat-kalimat dalam kutipan berikut:

 Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 kepala daerah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan tugasnya kepada presiden melalui Menteri Dalam Negeri (untuk daerah tingkat I) dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur kepala daerah (untuk daerah tingkat II). Selain itu, kepala daerah juga wajib menyampaikan keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD tentang pelaksanaan tugas setahun sekali atau jika dipandang perlu olehnya atau apabila diminta oleh DPRD. Namun demikian kepala daerah tidak terlalu terikat oleh kewenangan yang dimiliki DPRD. Hal ini karena DPRD bukanlah lembaga pemaksa dan tidak mempunyai kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban. (Amin Suprihatin, 2008: 25).

Kutipan tersebut diambil dari buku yang ditujukan untuk siswa SMP. Kita ambil kalimat pertama dari paragraf tersebut.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, kepala daerah mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan tugasnya kepada presiden melalui Menteri Dalam Negeri (untuk Daerah Tingkat I) dan kepada Menteri Dalam Negeri melalui gubernur kepala daerah (untuk Daerah Tingkat II).

Dalam kalimat tersebut  ada dua informasi penting. Kalimat tersebut dapat jabarkan menjadi beberapa klausa.

  1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 mengatur tentang kewajiban kepala daerah.
  2. Kepala daerah tingkat I mempunyai kewajiban mempertanggungjawabkan tugasnya kepada presiden melalui Menteri Dalam Negeri.  
  3. Kepala daerah tingkat II mempunyai kewajiban mempertanggungjawabkan tugasnya kepada presiden melalui kepala daerah.

Kalimat tersebut masing-masing mengandung satu informasi. Kalimat yang baik hanya mengandung satu informasi. Itulah sebabnya satu kalimat sebaiknya mengandung satu informasi. Sekarag perhatikanlah kutipan berikut.

Kehidupan pada zaman mesin ini menjadikan kita mudah melakukan berbagai aktivitas. Waktu dan tempat tidak lagi menjadi masalah. Itu semua terjadi karena perkembangan zaman yang sangat cepat.  Teknologi, khususnya yang berhubungan dengan komunikasi dan informasi, berkembang begitu cepat. Berbagai fasilitas yang menunjang kehidupan manusia tersedia dan dapat diakses dengan mudah. Keadaan ini mau tidak mau membuat masyarakat terubah gaya hidupnya. Masyarakat yang tidak mengikuti perubahan tentulah akan tertinggal.  (Djoko Tjahyono, 2000: iii)

Setiap kalimat pada alinea tersebut mengandung satu informasi. Oleh karena itu paragraf itu lebih mudah dipahami pembacanya.

Dari kedua contoh paragraf tersebut data ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Kedua contoh tersebut merupakan tulisan resmi.
  2. Bahasa yang digunakan adalah bahasa resmi’. Keduanya  disajikan dalam buku ilmiah.
  3. Kata-kata yang dipilih adalah  kata-kata baku.
  4. Pola kalimatnya pun pola kalimat baku, bukan kalimat susun balik atau kalimat inversi.
  5. Kalimat-kalimat tersebut disajikan dalam paragraf eksposisi, bukan paragraf narasi.(Rastuti, 2009: 61-64)