Berita-berita media yang beredar setiap hari, jam, menit, dan detik seolah mendikte kehidupan kita. Begitu mata melek bangun tidur Anda seolah dituntun ke depan televisi. Begitu koran masuk ke rumah, mata ini otomatis memelototi jajaran kata yang tercetak rapi.  Malah, kalau sempat di mobil memutar radio sekadar untuk mengusir jenuh karena jalanan tiap pagi pasti macet. Yang diamati berita.

Ya, wartawan memang penting. Itulah yang membuat (dulu) Grup Kasidah Nasida Ria mengungkapkan wartawan itu ratu dunia. Mahkotanya adalah berita. Bisa dibayangkan dunia tanpa berita. Karena berita yang di-release media masyarakat menjadi pintar. Tapi masyarakat menjadi apatis pun karena berita. Di sini teori klasik agenda setting masih membelenggu masyarakat. Apa yang dianggap penting oleh media maka dianggap penting juga oleh masyarakat.

Masalah muncul manakala tidak ada media literacy (pembelajaran media) di masyarakat. Berita-berita yang muncul di media kita ditelan siapa pun, tidak mengenal usia. Tua, muda, dewasa, remaja, dan anak-anak semua mengkonsumsi media. Dan khusus untuk berita, tidak ada segmentasi untuk penonton atau pembacanya. Begitu anak menghidupkan televisi yang kebetulanchannel yang muncul berita untuk beberapa saat anak itu tertegun dengan berita yang didengarnya. Sehingga ada kosa kata ’mutilasi’ terdengar oleh anak-anak. Pernah anak saya bertanya,” Apa sih Yah mutilasi itu?” Atau anak saya menyatakan,” Yah ada duren, duda keren..” Dalam kondisi seperti ini mau tidak mau orangtua harus arif melakukan media literacy untuk si kecil. Kalau tidak, bisa berbahaya.

Yang jelas, dalam soal berita tidak ada pemenuhan terhadap hak anak untuk memeroleh berita. Karena sejatinya berita itu untuk semua kalangan. Tapi pada kasus di atas, kompilasi telinga anak-anak mendengar kosa kata dari berita setuju harus waspada. Sama seperti kata-kata kotor di sinetron sering tanpa sengaja didengar oleh anak-anak kita jadi perbendaharaan kosa kata anak kita semakin banyak gara-gara terpaan media.

Baca juga: Prosumen Jurnalistik

Bagaimana Media Berpikir?

Kalau begitu adanya, bagaimana sih media massa itu berpikir? Apakah cara berpikir media sama dengan masyarakat  audience-nya?

Malapetaka jika masyarakat berpikir cara media. Dalam media apa pun mengalami proses komodifikasi. Artinya, semua hal yang muncul di media sudah melalui proses seleksi bisnis sehingga harus dikemas sehingga menimbulkan hasil guna lain. Nilai awal berita adalah informasi yang dibutuhkan masyarakat. Tapi karena media sudah dikomodifikasi maka paket berita pun dikemas dalam bingkai bisnis. Maka rating acara berita bisa membuahkan hasil tinggi karena di sini ada interaksi penonton dan pebisnis. Penonton memang perlu informasi, tapi pebisnis juga perlu menampilkan produk bisnisnya. Sehingga semakin seru berita dibuat maka semakin tinggi produk yang beriklan.

Jika pola berpikir media ini dianut masyarakat maka yang terjadi ketergantungan pada media semakin tinggi. Masyarakat terjerat dalam agenda setting yang menjadi target media. Sementara tidak semua berita penting bagi masyarakat. Jika kondisi ini tetap berlangsung maka yang muncul justru apa yang disebut Teori Kultivikasi yakni teori yang dikembangkan Profesor George Gerbner, seorang dekan Annenberg School of Communications di Universitas Pennsylvania. Dia pertama kali melakukan penelitian dengan proyek ‘Meteran Kebudayaan’ pada pertengahan tahun 1960-an untuk mengetahui apakah dan bagaimana menonton televisi berkemungkinan bisa memengaruhi pikiran penonton. Artinya, untuk mengetahui dunia nyata seperi apa yang dipersepsikan oleh penonton televisi dan teori ini hanya menekankan ‘dampak’ yang terjadi pada khayalak, terutama pada para penonton televisi.

Penonton berat televisi dilihat sebagai seseorang yang mengolah atau menanamkan sikap yang lebih konsisten dengan dunia program televisi dibanding dunia sehari-hari (nyata). Menonton televisi mungkin menyebabkan kecenderungan gaya pemikiran umum mengenai kekerasan di dunia. Selain itu mungkin akan mengakibatkan efek  yang lain, yaitu kerasnya sikap seseorang (penonton televisi).

Baca juga: Media Massa: Pengertian, Karakteristik, Jenis, Fungsi, dan Peran

Pengertian teori kultivikasi ini mengarah kepada indikator yang memberikan asumsi bahwa setiap pesan yang disampaikan  tv  seolah-olah dianggap  khalayak merupakan realita. Gerbner menyatakan bahwa program tv merupakan hal atau alat yang sangat ampuh memberikan efek-efek tv. Contoh, ketika kasus Gayus Tambunan mengemplang pajak miliaran rupiah lantas ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pajak yang setiap orang bayarkan akan dikemplang  juga oleh petugas pajak lainnya. Maka muncul facebooker anti membayar pajak, Atau jika ada keributan seperti di Blowfish (minggu dinihari 4/3) seolah semua night club berbahaya karena di situ ada keributan fisik yang menyebabkan beberapan orang tewas.

Salah satu efek teori kultivasi adalah ‘Mean World Syndrom’, di mana para penonton berat (heavy viewer) menganggap dunia nyata atau kehidupan yang nyata lebih buruk dibandingkan dengan dunia tv. Mereka menganggap dunia nyata sebagai tempat yang kumuh dan keras. Oleh karena itu penonton berat selalu takut dan berhati-hati pada dunia nyata. Gerbner membantah bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai yang sudah ada pada kebudayaan, yang artinya media memelihara dan menyebarkan nilai budaya sekaligus mengaitkannya secara bersama-sama.

Itulah sebabnya Gerbner melihat tv sebagai penguasa ‘simbolik lingkungan’. As McQuail dan Windahl menyadari, teori kultivasi menyebabkan tv bukan merupakan gambaran atau jendela dunia, akan tetapi dunia itu sendiri’ (1993: 100). Gerbner dan relasinya menyatakan, para penonton berat yang menonton kekerasan di tv sadar dan kembali percaya bahwa kekerasan dunia nyata lebih tinggi daripada pemikiran para penonton ringan atau ‘light viewer’. Mereka menyebutnya sebagai mainstreaming efek.

Berdasarkan asumsi dan pemikiran Gerbner tersebut saatnya Anda mulai mengkonsumsi media dengan cara masyarakat biasa. Jangan biarkan Anda mengkonsumsi media menggunakan cara pikir media, di mana media selalu menanamkan news peg (cantelan berita) dalam mengemas paket pemberitaannya. Sehingga kalau hari ini ada kasus Blowfish, esok mungkin akan dikejar siapa di balik keributan itu. Ingat, istilah paket juga merupakan bagian komodifikasi pada setiap acara berita di media yang berorientasi pada kemasan berita untuk menarik minat khalayak (penonton dan pebisnis).

Marilah mulai berpikir ala Askurifai, ala Aji Hermawan, ala Eva Ritawati, dan masyarakat pada umumnya. Jika ini kita lakukan kita tidak akan terjebak dengan dua teori media yang masih ampuh, yakni agenda setting dan kultivikasi. Media hanya sekadar alat, bukan penuntun hidup Anda.**(Askurifai Baksin)