Di dunia penulisan, Ernest Hemingway, seorang penulis besar Inggris pernah membagi istilah penulis dan pengarang.  Apa perbedaan diantara keduanya? Kali ini  akan membahas keduanya, yakni pada sumber tulisan dan bahasa yang digunakan. Pada proses penulisan yang dilakukan oleh seorang pengarang sumber inspirasinya dari imajinasi. Di sini seorang pengarang  harus full of imagination, seseorang yang kaya imajinasi. Kalau pun dalam mengarang fiksi ada data dan fakta yang akan disampaikan tentu tidak masalah. Kini banyak pengarang yang  menggabungkan aspek data dan fakta dalam tulisan fiksinya.  

Sementara seorang penulis lebih menekankan aspek skill menulis. Seorang penulis dengan skill menulisnya mampu membuat kompilasi dari berbagai referensi.

Ernest Hemingway yang pertama kali memilah antara pengarang dan penulis. (Google)

Dari pejelasan tersebut seseorang  yang menulis karena mengandalkan imajinasinya disebut pengarang. Sementara seseorang yang menulis karena melakukan kompilasi dari berbagai referensi disebut penulis. Keduanya sama-sama penulis, hanya istilahnya saja yang berbeda. Ada seseorang yang senang menerjuni penulisan sebagai pengarang dan ada pula yang memilih jalur penulis.

Secara umum keduanya disebut penulis.Perbedaan kedua yakni pada aspek bahasa. Seorang pengarang mendapat keistimewaan dari aspek penggunaan bahasa, yaitu lisensia puitika (kebebasan menggunakan bahasa). Lho kok bisa? Ya, karena di ranah penulisan ada fasilitas yang diberikan kepada para pengarang.

Dengan modal inilah seorang pengarang berusaha mengeksplorasi bahasa, istilah, idiom, dan dialek menjadi khasanah memperindah karya fiksinya.

Bagaimana dengan penulis? Nah, penulis ternyata tidak punya fasilitas seperti pengarang. Tapi penulis bisa menggunakan bahasa hybrid. Kok seperti produk pertanian ya? Bahasa hybrid di sini maksudnya bahwa seorang penulis bisa menggabungkan antara bahasa ilmiah (yang biasa dipakai pada penulisan karya ilmiah untuk jurnal) dan bahasa populer (biasanya digunakan di majalah dan koran). Kolaborasi antara bahasa ilmiah dan popular inilah melahirkan keturunan bernama bahasa hybrid.  Dengan fasilitas bahasa hybrid seorang penulis mampu melahirkan karya-karya untuk diminati masyarakat.Apa kelebihan bahasa hybrid ini? Utamanya bahasa ini tidak membuat pembaca mengerutkan dahi karena sulit mengerti maksud tulisan. Atau bahasa populer yang menjurus ke slank yang mungkin tidak bisa diikuti karena segmented. Pembaca bahasa hybrid  mampu mencerna dengan mudah karena tidak terlalu ilmiah dan tidak terlalu popular.

Jadi, irisan antara bahasa ilmiah dan bahasa populer merupakan bahasa hybrid. Inilah rahasia mengapa para penulis mampu menghipnotis pembacanya untuk terus mengikuti berbagai tulisannya.(Askurifai Baksin)