APAKAH jika akan menulis Anda harus mempunyai ide dulu?
Apakah ide bisa dicari belakangan setelah unsur lain sudah ada dan siap dijadikan tulisan? Jawabannya tinggal menggunakan logika berpikir Anda karena ide merupakan bahan dasar sebuah tulisan. Sebagai bahan dasar tentu dia harus ada lebih dulu sehingga tulisannya kita tidak melebar dan focus.
Dari laman Wikipedia disebutkan, gagasan atau ide (Kata ide berasal dari bahasa Yunani ἰδέα idea “bentuk, pola,” dari kata asalnya ἰδεῖν idein, “melihat”). Dalam ilmu filsafat, gagasan atau ide biasanya merujuk pada gambaran perwakilan mental suatu objek. Gagasan juga dapat menjadi konsep abstrak yang tidak mewakili gambaran mental. Gagasan merupakan hasil dari pemikiran.
Ide menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diartikan sebagai rancangan yang tersusun di dalam pikiran; atau perasaan yang benar-benar menyelimuti pikiran.
Secara umum, gagasan merupakan sesuatu yang dihasilkan dari pemikiran, pengusulan, kemauan, serta harapan yang kemudian disampaikan atau diperdengarkan. Dapat pula didefinisikan sebagai konsepsi yang ada dalam pikiran sebagai hasil dari pemahaman mental, kesadaran, atau aktivitas.
Gagasan dalam kajian filsafat Yunani dan filsafat Islam melibatkan gambaran lengkap tentang imajinasi yang segera berlalu. Misalnya, gagasan tentang sendok muncul di benak sebagai sendok utuh. Selama gagasan atau ide tersebut belum ditanamkan menjadi sebuah konsep dengan kata-kata atau gambar yang nyata maka ide tersebut hanya akan tetap ada dalam pikiran. Ide akan menghasilkan konsep sebagai dasar dari semua jenis pengetahuan, termasuk sains dan filsafat. Saat ini, banyak orang berpikir bahwa sebuah ide merupakan sejenis kekayaan intelektual, seperti halnya hak cipta atau paten.
Plato mengemukakan pandangannya mengenai teori ide sebelum dikenal sebagai idealisme. Ide menurut Plato tidak terikat oleh waktu dan tempat. Maka ide bukanlah sebuah makhluk. Plato lebih memprioritaskan ide sebagai alam yang tidak indrawi atau sesuatu yang tidak berwujud, dan juga Plato mengatakan bahwa kebenaran berasal dari material, bahannya hanya kebenaran yang terletak kebenaran penting dalam gagasan itu. Dalam kata-kata Plato lain menyatakan bahwa ada sesuatu yang ada. Dengan kata lain Plato mengatakan terdapat dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Sebab itulah, ide diartikan sebagai hakikat sesuatu karena dengan idelah yang menjadi asal muasal terjadinya bentuk fisik.
Rene Descartes mengatakan bahwa “ide adalah model pikiran“. Ide dipahami sebagai cara yang dianggap, seperti berasal dari pikiran atau bentuk manifestasi pikiran. Ia mengungkapkan anggapannya bahwa diri manusia memiliki seperangkat ide. Jika dijelaskan bahwa esensi atau sifat pikiran adalah berpikir maka ide adalah cara berpikir yang mewakili obyek untuk pikiran. Descartes mengelompokkan ide ke dalam tiga jenis, yakni ide bawaan (innate ideas), ide adventif (adventitious ideas), dan ide buatan (factitious ideas).
Ide bawaan dalam filsafat merupakan ide-ide yang diduga lahir dalam pikiran manusia, berbeda dengan yang diterima atau disusun dari pengalaman. Ide bawaan meliputi setidaknya ide-ide tertentu (misalnya, ide-ide tentang Tuhan, keluasan, substansi pikiran) karena tidak ada asal empiris yang memuaskan dari mereka yang dapat dipahami.
Ide adventif merupakan ide-ide yang berasal dari luar, dari objek, dan di luar pikiran. Hal ini berlawanan dengan ide bawaan. Bentuk argumen ontologis oleh Descartes tentang Tuhan dibangun di atas gagasan Ide-ide adventif.
Ide buatan merupakan Ide-ide buatan yang isinya berasal dari isi ide-ide lain, tidak diragukan lagi termasuk dalam kategori ide nonprimer atau ide yang berasal dari realitas objektif dari beberapa ide lain.
Tujuan dalam menyampaikan gagasan berupa data bukti, hasil penalaran, dan pemikiran lainnya agar dapat meyakinkan pendengar atau pembaca tentang kebenaran atau kesimpulan pembicara. Gagasan disampaikan juga bertujuan agar dapat memecahkan permasalahan atau sebagai solusi atau cara mengatasi masalah. Gagasan disampaikan bersifat objektif dan masuk akal serta sering kali juga dikenal sebagai pendapat. (Wikipedia, 19/4/2022).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merahnya bahwa ide merupakan gagasan awal sebuah fenomena atau permasalahan yang akan dibeberkan kepada khalayak. Ide menjadi titik sentral, titik berpijak, awal berpikir sebuah fenomena atau permasalahan yang akan disampaikan kepada orang lain.
Muncunya ide dari mana?
Muncul pertanyaan, ide itu munculnya dari mana? Ayo kita bersama menggali secara cerdas untuk mendapatkan ide secara kreatif.
Pertama dari pertemuan (seminar, diskusi, pertunjukan, dan lainnya). Sebuah seminar (masa pandemic covid-19 dikenal sebagai webinar) memunculkan banyak ide karena dari para pembicara keluar pernyataan dan tanggapan mengenai suatu hal yang hangat. Jika narasumber ada lima berarti paling tidak ada lima sumber ide. Anda bisa menggalinya dari makalah atau penjelasan dari mereka. Buku saya yang berjudul ‘Membuat Film Indie Itu Gampang’ lahir setelah saya mengikuti kegiatan Festival Film Indie di SCTV tahun 2003 silam.
Melalui pertunjukkan Anda juga bisa menggalinya menjadi sumber ide tulisan. Misalnya setelah Anda menonton pertujukkan tari India yang dibawakan Mariane Jiwajane Anda bisa membuat buku tentang ‘Tari India di Tangan Orang Indonesia’. Buku ini akan menarik karena komunitas orang India di Indonesia cukup banyak. Selain itu ada Sebagian masyarakat Indonesia yang gandrung terhada budaya India.
Kedua saat merenung (tafakur), membaca, menyimak, menganalisis fenomena yang lagi berkembang. Sumber ide yang kedua ini cukup ampuh melahirkan ide tulisan. Bagi seorang penulis banyak kegiatan yang bisa dijadikan sebagai sumber ide tulisan. Saat membaca sebuah buku akan muncul ide untuk membuat buku sesuai dengan buku yang Anda baca. Ketika tahun 2006 saya membaca buku ‘Jurnalistik Televisi’ karya JB Wahyudi beberapa bulan kemudian saya menulis buku ‘Jurnalistik Televisi (Teori & Praktik). Buku yang saya tulis terinspirasi dari buku yang sudah saya baca tapi dengan perbedaan yang signifikan sehingga saya merasa buku yang saya tulis punya perbedaan dan keunggulan.
Ketiga mengetahui informasi yang dibutuhkan orang. Tahun 2018 kalangan masyarakat berkembang budaya video, sejak gaget mampu membuat produk video. Saat itu saya tergerak untuk memberikan informasi seputar videografi kepada masyarakat karena saya yakin masyarakat butuh informasi seputar videografi. Maka di tahun yang sama 2018 saya menerbitkan buku Videografi Kontemporer. Jika buku sebelumnya diterbitkan di penerbit orang lain buku Videografi Kontemporer saya terbitkan sendiri karena sudah memiliki penerbit sendiri.
Sumber ide ketiga ini cukup mudah karena buku yang Anda bikin mudah laku berhubung dibutuhkan masyarakat. Jadi, Anda harus rajin mengamati kebutuhan informasi yang dibutuhkan masyarakat sehingga buku yang Anda tulis laku.
Keempat sumber ide muncul karena melihat kesulitan yang dihadapi orang. Mungkin Anda pernah merasa kesulitan terhadap suatu hal, misalnya mau bertanam anggur tapi tidak ada pengetahuan tentang anggur. Muncullah keinginan untuk membeli buku tentang cara bertanam anggur. Demikian juga Anda bisa mengamati kesulitan orang kemudian Anda membuat bukunya untuk membantu masyarakat kesulitan masyarakat.
Kelima membuat sesuatu yang lebih baik daripada yang sudah dibuat orang. Jangan malas pergi ke toko buku atau mengamati katalog buku dari berbagai penerbit buku. Dengan cara tersebut Anda mungkin akan tertarik menulis buku yang sama dengan buku yang Anda amati tapi dengan sentuhan lebih baik dari buku yang sudah ada. Inilah salah satu sumber ide menulis buku yang paling mudah. Tantangannya Anda harus membuat buku yang lebih baik lagi. Nah, kalau membuat bukunya tidak lebih baik ya percuma.
Keenam dirangsang oleh ide orang lain. Sumber ide yang keenam ini hampir sama dengan yang kelima tadi. Intinya, Anda menulis dari ide orang lain yang kemudian ditulis lagi tapi dengan versi Anda sehingga punya perbedaan. Sumber ide yang terakhir adalah ide datang karena ada sesuatu yang kontroversial. Saat IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) gaduh berminggu-minggu muncullah buku tentang IPDN yang ditulis oleh dosen IPDN sendiri, Inu Kencana Syafei berjudul ‘IPDN Undercover: Sebuah Kesaksian Bernurani. Buku ini viral karena sebagai jawaban atas kegaduhan yang terjadi di kampus IPDN.**
Would you like to share your thoughts?
Your email address will not be published. Required fields are marked *